Categories
Cerita Pendek

Manfy

Pekerjaan menampar belum banyak dimiliki orang pada saat itu. Tepatnya, baru satu orang yang memiliki jenis pekerjaan yang hampir serupa dengan pembunuh bayaran ini. Bedanya, korban tidak akan mati. Hanya membengkak saja di bagian yang tertampar. Bagi Manfy, inilah satu-satunya hal yang dapat membengkakkan dompetnya. Pekerjaan ini sudah ia lakukan sejak lima tahun yang lalu. Dari hobi, bisa dijadikan pekerjaan tetap. Bayangkan, betapa menyenangkannya hidup orang-orang yang bisa mengubah hobi menjadi sesuatu yang menghasilkan uang!

Categories
Cerita Pendek

Kursi

Tadi sore saya sedang duduk di kursi. Di sebelah kanan saya pun ada teman saya yang juga duduk di kursi. Di sebelah kiri saya pun ada teman saya yang duduk di kursi. Di hadapan saya pun ada teman saya yang duduk di kursi.

Teman-teman bertebaran duduk di kursi.

Untunglah, semuanya kebagian kursi, jadi mereka bisa duduk. Bayangkan satu saja kursi kurang? Siapa yang harus duduk di yang bukan kursi? Saya rela tidak duduk di kursi, tapi di sana harus ada meja. Jadi saya bisa duduk di meja. Kalau tidak ada meja? Semoga saja di sana ada toilet. Saya bisa duduk di kloset. Tapi kalau duduk di kloset, berarti saya berada di dalam toilet, dan teman-teman saya tidak berada di toilet, jadi saya harus bagaimana? Buang air saja lah.

Categories
Cerita Pendek

Cerpen: Bukan Gantungan Baju

Suatu hari, saya dan teman sedang menempuh kehidupan baru. Nggak deng. Kami sedang menempuh perjalanan ke Bandung. Kami baru saja pulang dari luar kota. Kota kecil yang nyaman, namun senang sekali dicoret-coret orang yang iseng. Kasihan sekali. Yang membuat miris, bukan hanya beberapa bagian bangunan kota, melainkan jati diri kota itu sendiri. Bandung coret, kata mereka. Ya, saya dan teman habis dari kota Cimahi.

Kota Cimahi merupakan kota yang lebih maju peradabannya daripada kota-kota di Kalimantan. Sudah ada bioskop dan Hoka-Hoka Bento di sana. Bahkan, menurut kabar burung (maaf bagi yang hobi memelihara unggas, jenis burung tidak disebutkan karena saya menggunakan burung dalam artian konotasi, ya), kini di kota Cimahi sudah ada Gokana Teppan. Bahkan, geng-geng motor gaul di Bandung, seperti Brides dan XTC, sudah menorehkan nama mereka di bangunan-bangunan Cimahi. Nampaknya ada yang janggal. Oh, saya sudah salah menuliskan nama Brigez menjadi Brides. Kebayang deh, kalo namanya Brides berarti sekumpulan wanita-wanita yang pada hari yang sama akan melangsungkan akad nikah, terus malah kabur naik motor bebek yang terparkir di depan setiap gedung tempat mereka akan membacakan janji suci sehidup semati (bagi yang tidak berencana untuk cerai, berpisah sambil nyanyi lagu Cakra Khan, Harus Terpisah), yang ternyata sudah direncanakan sebelumnya oleh pimpinan geng Brides. Jadi, bisa dilihat di sini bahwa visi dari pimpinan geng Brides adalah untuk memisahkan antara pengantin laki-laki dan wanita, seperti layaknya di film Runaway Bride. Hm, sudahlah, tidak penting juga untuk dibahas. Eh, saya tidak bermaksud untuk bilang Cimahi itu tidak penting, tetapi hal yang saya bahas itu kurang esensial dan kurang masuk akal (ya, saya pun menyadari itu).

Jadi, sampai di mana kita? Oh, sampai mati aku jadi penasaran, sampai mati pun akan kuperjuangkan (maaf untuk para fans Rhoma Irama sebab saya mengubah lirik di bagian kata “sampai” yang pertama, harusnya “sungguh”. Sungguh, saya butuh lagu tersebut supaya post ini lebih nendang karena pada dasarnya, genre dangdut itu sangat menendang siapa saja. Apalagi kalau naik ke atas panggung tapi gak ikut nyawer duit buat penyanyi saat dilangsungkan orkes dangdut.

Sekarang beneran deh, apa yang akan saya dan teman saya lakukan setelah meninggalkan Cimahi menuju Bandung?

***

Hore, terima kasih untuk kalian yang telah membaca cerpen buatan saya yang baru bangun tidur ini! Terima kasih juga karena kalian bersedia digantungkan di akhir cerita. Satu pelajaran dari cerpen ini, tidak hanya masalah percintaan saja yang bisa digantungkan, tetapi baju juga bisa.

Cerpen, feedback.

P.S. Kalau di NLP Training, kalimat terakhir di atas itu artinya sang pembicara menginginkan umpan balik atau komentar dari orang lain. Merasa orangkah diri Anda?

Categories
Cerita Pendek

Ayam Petok

 

Pagi itu, aku melihat ayam-ayam. Mereka berkumpul bersama. Bukan dalam rangka arisan atau peringatan empat puluh hari mengenang kematian ayah dari sang ayam. Mereka berkumpul tanpa berucap “petok” satu kali pun.

***

Ayam. Ayam. Ayam. Ayam. Ayam. Ayam.

Enak sekali tampaknya untuk dimakan. Hanya tinggal potong kepalanya sambil ucapkan “Bismillah, Allahu Akbar”, keluarkan darahnya, cabuti bulunya, lalu bagilah ayam tersebut seperti ayam potong lain. Paha atas, paha bawah, sayap, dada, itulah bagian yang paling enak. Namun, aku tidak membawa golok, padahal aku sudah meninggalkan perasaan tega di rumah.

***

Ayam-ayam adem ayem berkumpul bersama koloninya. Berputar-putar, menuruti insting. Melarikan diri jika aku hampiri. Kadang, ayam mengikuti anaknya. Menjaga anaknya, supaya tidak dijadikan chicken wings rasa barbeque.

***

Mengapa ayam harus menjadi ayam? Mengapa ayam memiliki bulu, bukan rambut? Kalau saja rambut yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya, bukan bulu, ia pasti bernama orangutan. Dilindungi. Tidak bisa dimakan. Ditemukan hidup bersama dalam hutan di Kalimantan.

 

 

 

 

Categories
Cerita Pendek

Mutilasi Melewati Batas Norma

Pucat. Sangat pucat. Darah muncrat kemana-mana. Ia bisu. Telah membisu. Tak sedikit pun kata-kata maupun sedikit pun suara yang dapat dikeluarkannya. Siang berganti malam, takdir pun pasti akan terjadi dan tak dapat ada seorangpun yang dapat menyangkalnya jika Allah telah berkehendak.

Tak ada seorangpun dari kawanannya yang dapat menolong ia. Terlambat, sungguh terlambat. Semua yang melihat, hanya bisa diam tanpa melakukan satu hal pun. Darah itu masih saja bercucuran dari nadi.

Mutilasi, ya hal ini tengah terjadi.

Pagi hari tadi, mereka masih bercengkrama antara satu dengan yang lainnya, masih bersuara dengan keras dan berirama. Sampai, seseorang dari kami telah memisahkan satu dari mereka. Kejam? Ya memang. Yang kuat pasti yang berkuasa, itu memang sudah jadi hukum alam. Tak peduli siapa yang benar atau siapa yang salah, mana yang halal dan mana yang haram, tabrakkan saja semua norma, toh tidak akan ada satu orang pun yang peduli.

Satu dari mereka sudah mati. Satu dari mereka sudah mengabdi.

***

Wangi ini, sepertinya kukenal. Seperti wangi yang keluar dari restoran cepat saji. Ayam goreng. Kulitnya renyah dan dagingnya penuh dengan cita rasa, siapa yang menolak?

Ayahku memotong satu dari dua puluh lima ayam-ayam broiler peliharaannya siang hari tadi, untuk aku. Karena aku ingin makan ayam goreng.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Categories
Cerita Pendek

Ini Dia Cerpen Buatan Saya yang Diselesaikan Hampir Pukul 00.00

Nama: Fadhila Hasna Athaya (13)

Lipstik Selfita yang Hilang

“Siapa yang kamu tuduh?”  tanya Bona.

“Ya kamu lah! Siapa lagi?” jawab Selfita.

“Aku ini laki-laki! Mana mungkin mencuri lipstikmu!” ujar Bona dengan nada marah.

Mereka berdua mulai siang tadi bertengkar. Bertengkar karena hilangnya lipstik Selfita yang baru dibelikan oleh neneknya. Selfita marah dengan argumen yang jelas. Selfita melihat lipstik miliknya di meja Bona. Pertengkaran itupun reda saat neneknya Bona datang ke teras, tempat Bona dan Selfita bertengkar. Mereka berhenti bertengkar karena mereka tak ingin nenek Bona nantinya akan marah kepada nenek Selfita. Marah karena cucunya difitnah oleh cucunya nenek Selfita. Bona tak mengembalikan lipstik itu karena Bona bilang lipstik itu untuk pacarnya. Memang beberapa hari lagi pacarnya Bona akan berulang tahun.

“Benar aku tak tahu dimana lipstikmu itu. Yang kau lihat di mejaku itu kado untuk pacarku. Masa kau tak percaya aku, teman baikmu dari kecil” ujar Bona.

“Iya deh. Maaf ya aku telah menuduhmu, Bona.” Selfita meminta maaf. Selfita memang sahabat Bona. Tapi Selfita gelap mata dan menuduh Bona yang mencurinya. Selfita merasa putus asa, sampai ia salah lihat.

“Sudahlah nanti aku bantu carikan ya di rumahmu. Tapi minggu depan saja, soalnya aku mau merencanakan pesta kejutan untuk pacarku.” ujar Bona.

“Janji ya! Janji jari tengah!” ujar Selfita sambil tersenyum simpul. Tak ia sangka sahabatnya itu ternyata laki-laki yang romantis.

***

Hari-hari pun berlalu, tanpa satupun titik temu. Malam ini, Selfita pergi jalan-jalan ke mal bersama teman-temannya tanpa riasan wajah. Ya, daripada dandan tanpa lipstik, lebih baik tidak usah dandan sekalian, pikirnya. Teman-teman Selfita, Siti, Jannati, dan Lina, heran mengapa Selfita terlihat seram dan muram.

“Selfita, mengapa hari ini kamu begitu muram?” ujar Siti.

“Ah aku tidak apa-apa kok.” ujar Selfita.

“Katakan saja apa yang menjadi pikiranmu.” ujar Jannati.

“Iya, biar muka kamu kembali lagi seperti sedia kala, ketika kita senang dan ceria. Tidak seperti sekarang, pucat dan menyeramkan.” ujar Lina.

“Sebenarnya, aku kehilangan lipstik yang nenekku belikan untukku, sebagai kado ulangtahunku ke-17. Lipstik itu sangat berharga, karena nenekku membelikan kado itu dengan susah payah. Nenekku menjual opak keliling komplek perumahan. Opak yang dijualnya itu benar-benar hasil buatannya. Aku sampai terharu dan tak berhenti meneteskan air mata begitu sepupuku memberitahukanku akan hal ini.” ujar Selfita sambil mulai menangis terisak-isak.

“Wah, nenekmu memang nenek perkasa!” komentar Lina.

“Hei, jangan memberi komentar yang di luar topik utama. Apalagi menyinggung-nyinggung tentang nenek Selfita yang memang perkasa. Kalau Selfita tidak menerima komentarmu itu, bisa saja ia mengadukan hal ini ke komnas HAM! Memang ada kebebasan memberikan pendapat di depan umum, tapi ya jangan komentar yang aneh-aneh.” ujar Jannati langsung memberikan kritik yang mengoreksi komentar Lina.

“Ah tahu apa sih kamu, Jan! Memang benar nenek dia perkasa. Berarti aku mengatakan fakta!” Lina langsung menyanggah komentar Jannati dengan gusar.

Sebelum Jannati hendak membalas perkataan Lina, Siti langsung menengahi hal sepele yang akan berbuah pertengkaran tersebut.

“Sudahlah, sudah. Yang penting kita harus bantu Selfita menemukan lipstik hadiah dari neneknya itu. Tak masalah mau perkasa atau tidak, sesuai hak asasi manusia atau tidak, menurutku nenek Selfita adalah nenek super yang sangat menyayangi cucunya.” ujar Siti dengan bijak.

Siti adalah anak sulung di keluarganya, yang mengurus dua adiknya yang berumur lima tahun. Wajarlah ia terbiasa bersikap tenang dan bijaksana. Kini Selfita dan tiga temannya itu berembuk menyusun cara bagaimana agar lipstik itu bisa ditemukan. Mereka bertiga berembuk di restoran favorit mereka, Sendok 25 Bambu.

“Jadi menurutmu, dimana terakhir kau melihat lipstik itu?” Siti memulai pembicaraan.

“Di loker sekolah, tapi sepertinya aku ceroboh saat menaruhnya, sehingga jatuh. Tapi aku tak menyadarinya kalau lipstick itu jatuh. Ini hanya kemnungkinan yang beralasan.” jawab Selfita.

“Bagaimana ciri-ciri dari lipstikmu?” tanya Lina.

“Warna lipstiknya hijau dengan glitter, kemasan lipstik itu berwarna kuning terang. Edisi terbatas dan hanya ada 25 produk yang dijual di seluruh dunia. Satu-satunya pembeli lipstik itu di Indonesia ya nenekku.” Selfita menerangkan karakteristik lipstik itu dengan jelas dan lugas.

“Hei sepertinya aku tahu siapa yang mencuri lipstik itu! Aku melihat ada perempuan menggunakan rok merah panjang dan beriasan muka tebal dan mulutnya sepertinya menggunakan lipstik dengan warna sama seperti lipstikmu yang kau jelaskan itu!” Jannati berseru.

“Kapan?” tanya Selfita. Matanya langsung berbinar-binar saat mengetahui informasi itu.

“Tadi, baru saja lewat. Dia sudah keluar pintu mal.” jawab Jannati.

“Tunggu apa lagi? Ayo kita kejar!” seru Lina.

Mereka langsung berlari meninggalkan restoran, tanpa membayar tagihannya. Pelayan restoran pun marah dan langsung ikut mengejar mereka. Namun sayang pelayan itu terpeleset dan terjatuh dengan keras karena ia tak membaca ‘Awas Lantai Licin’ yang menandakan lantai yang dia injak tersebut baru saja di pel.

Mereka berempat melihat sosok perempuan yang dideskripsikan Jannati di bawah lampu lalu lintas. Saat perempuan itu tahu bahwa ia sedang dikejar mereka berempat, ia panik dan langsung lari dengan langkah yang lebar. Sayangnya, rok yang dipakainya robek, hingga bagian paha. Tampak aneh sekali melihat betis dan paha perempuan itu berbulu lebat. Sosok perempuan itu terlihat dengan jelas karena lampu jalan kota yang begitu terang apalagi dengan billboard iklan dengan lampu besar.

Melihat pemandangan itu, Lina tertawa terbahak-bahak hingga ia tak melihat jalan dengan benar dan akhirnya menabrak tiang lampu jalan dan kemudian tak sadarkan diri. Jannati langsung membantu Lina. Jannati memang teman yang penolong. Jannati sangat menyayangi sesama. Ia berperilaku demikian karena saat di bangku SD, pelajaran yang paling ia sukai adalah Pkn. Maka ia menerapkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Siti adalah atlit daerah di bidang atletik. Prestasinya hebat dalam berlari sprint 100 meter. Dengan memperkirakan jarak dia dengan perempuan itu sekiranya sudah 100 meter, dia langsung mempercepat larinya dengan trik rahasia yang ia pelajari di kaki gunung Semeru. Tak sampai 10 detik, dia berhasil menjambak rambut perempuan itu. Rambut perempuan itu tidak rontok, tapi copot. Perempuan itu ternyata menggunakan rambut palsu. Tanpa rambut palsunya itu ia gundul, hingga terlihat seperti tuyul. Selfita yang hobinya melempar pohon jambu tetangga agar buahnya jatuh, langsung mengambil batu dan melempar tepat ke kepala perempuan itu hingga perempuan itu jatuh.

Selfita dan Siti langsung menghampiri perempuan itu. Mereka membalikkan badan perempuan tersebut yang tadinya telungkup karena jatuh dengan hidung yang menabrak paving block jalan terlebih dahulu. Saat dilihat ternyata perempuan itu bukan perempuan. Dia itu laki-laki. Dia itu Bona! Siapa yang menyangka, bahwa Bona yang dikira Selfita adalah laki-laki romantis, ternyata adalah seorang wanita pria, alias waria.

“Sejak kapan kamu begini, Bona? Atau harus aku panggil kamu Bonita?” ujar Selfita yang sepertinya sangat menyayangkan hal ini terjadi.

“Sejak aku putus dengan pacarku minggu kemarin. Siangnya, setelah aku putus dengan pacarku, aku teringat lipstik yang kamu pamerkan padaku saat pelajaran pertama. Begitu teman sekelas  pada pergi shalat ke masjid sekolah, aku ambil lipstik itu dari lokermu dan aku bawa pulang karena warnanya menarik dan juga karena aku berniat mengganti jenis kelaminku. Jadi aku harus terlihat seperti perempuan sejati. Tapi karena uangnya tak cukup ya jadi seperti ini dulu. Aku lakukan ini semua karena aku khilaf. Aku khilaf karena sepertinya aku gagal membahagiakan pacarku. Aku gagal sebagai laki-laki. Maka dari itu lebih baik menjadi perempuan, begitu pikirku. Maafkan aku.” Bona akhirnya mengatakan semua hal yang pasti akan benar-benar mengecewakan sahabatnya. Namun kenyataan memang harus dikatakan. Kenyataan itu tak seperti di film-film yang selalu indah, kenyataan itu memang pahit.

Tetapi, kenyataan ada juga yang manis. Yaitu kenyataan saat Selfita memaafkan Bona, sahabatnya dari kecil, dengan tulus dan membantunya kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT.

Categories
Cerita Pendek

Sungguh Tak Sengaja Kubuat Lidahku Membara

Pinggang saya sudah hangat serelah fisioterapi.

Mata saya sudah terbuka, terbangun dari tidur yang lelap di ruang fisioterapi.

Anget gitu, enaknya memang tidur.

Namun tak dinyana, perut saya memberontak dan membuat mulut saya terbuka. Bukan udara yang mulut saya perlukan, udara masih dengan lancarnya keluar masuk dari hidung saya, tapi makanan.

Ya, saya lapar.

Saya ajak mama saya untuk makan setelah membeli beberapa jendela dunia.

Saya bukan dari toko meubel, saya dari toko buku. Mereka menjual jendela-jendela dunia yang memberi pencerahan pada pikiran saya dan menghibur saya di hari yang terasa begitu lama tanpa kegiatan.

Duduk saya terdiam. Tapi saya tak diam sepenuhnya. Bola mata saya menggeliat bergerak gerak dengan lincahnya di lubang mata, memindai menu begitu cepat.

Nasi goreng. Sungguh pilihan yang tepat mengisi perut yang lapar.

Detik-detik saya lewati dengan membaca komik. Membunuh waktu saat menunggu nasi goreng tersaji.

JRENG! Nasi gorengnya sudah tersaji.

Saya mulai melahap nasi dan telor ceplok yang merupakan pelengkap nasi goreng. Kehadiran telor ceplok yang disajikan bersama nasi goreng sungguh tak bisa disubtitusi.

Namun saya masih saja membaca saat saya sedang makan. Rasanya memang nikmat. Membaca sambil makan. Menyatukan dua hobi saya dalam satu waktu yang bersamaan.

Tapi rasa itu hilang sudah.

Tiba-tiba muncul rasa pedas yang sungguh luar biasa terasa di lidah saya. Seperti petir yang menggelegar dan menyambar rumah-rumah yang tidak memasang penangkal petir diatas atap.

Kukeluarkan sesuatu yang sepertinya datang dari neraka itu dari mulut saya. Saya bertanya-tanya benda apakah yang membuat airmata saya hingga mengalir?

CABAI HIJAU.

Sungguh ku tak menyangka. Tapi ku tak bisa menyana. Mungkin ini hukuman tuhan karena makan sambil membaca.

peppergreenchile

Categories
Cerita Pendek

Es Krim Goreng


es krim goreng

Originally uploaded by dh25ila

Es krim goreng…
Mengapa kamu bisa digoreng?
Tahankah kau dengan suhu yang amat tinggi?
Tahankah kau dengan minyak yang dapat meyebabkan kolestrol?

Es krim goreng..
Kau terselimuti oleh roti yang renyah
Di luar kau begitu hangat
Namun di dalam kau begitu dingin
Kau bagaikan beruang kutub yang ada di gurun sahara

Es krim goreng..
Di menu kau berharga dua belas ribu
Namun kau berubah
Kau menjadi begitu berbeda
Di menu itu kau berkamuflase
Di bill itu kau membuka jati dirimu yang sebenarnya lima belas ribu
Jangan salahkan pajak
Jangan salahkan pemerintah
Jangan salahkan diriku ataupun dirimu
Salahkan dunia ini yang begitu kejam pada kita

Es krim goreng..
Aku tak tahu apakah pertemuan kita sore tadi juga merupakan pertemuan kita yang terakhir

Nanti, suatu saat nanti
Aku, jika aku diberi kelebihan fulus, aku akan membelimu
Insya Allah, aku berjanji

– dari dhila, untuk es krim goreng dan dunia.