Categories
Bebas

Curahan Hati Subuh Kali Ini

Terbangun dari dinginnya angin pagi yang disirkulasikan oleh kipas angin doorprize ‘hadiah pintu’ dari reuni SMA-nya mama. Sebenarnya sih gak ada angin yang masuk kamar saya. Lalu, apa dong yang masuk ke kamar saya? Tidak ada yang tahu, tetapi Allah yang Mahatahu atas segalanya.

Selimut telah menghangatkan saya semalaman hingga dini hari. Walaupun selimut saya tidak dapat menghangatkan makanan, selimut tetap saya hargai. Selimutku adalah bagian hidupku dari dulu hingga kini. Tanpa selimut, saya akan didera masuk angin abadi. Dikerok pake koin setiap hari. Saya kan bukan voucher pulsa fisik. Saya butuh kehidupan yang manusiawi. Bukan kehidupan alat tulis atau stationery. Ada apa ini. Tidak nyambung sekali. Maafkan diri saya yang hina dan lucu ini.

Ngulet di atas kasur adalah kegiatan yang lumayan saya sukai. Setelah ngulet, tulang tuh rasanya lebih enak dan lebih sakti. Saya tidak pernah makan ayam goreng habis sampai ke tulangnya, sih.

Setelah nyawa terkumpul dalam waktu beberapa menit, tadinya dari butiran debu makanya lama dikumpulinnya, mana ketiup kipas angin, akhirnya saya pun mulai melangkah. Tidak harus melangkah ke kehidupan baru, ke luar kamar saja bagi saya itu baby baby cukuplah sudah.

Hanya untuk menyambung nyawa saja kok. Makan sahur.

Categories
Bebas

Ingin ke Luar Negeri

20120506-174019.jpg

Wah, kayak di luar negeri.

Ingin naik pesawat dong, ke luar negeri.
Supaya bisa ke Bandara Internasional Soekarno Hatta beli Beard Papa’s.

Ingin ke luar negeri dong. Siapa tau nanti ketemu anggota DPR yang lagi studi banding. Biar nanti bisa melototin langsung, bukan dari layar televisi saja.

Ingin ke luar negeri dong. Bosen di Bandung, orangnya gitu-gitu aja. Mirip-mirip. Pengen liat yang beda. Supaya bisa bersyukur. Misalnya dengan tinggi badan yang sekarang, kalo lagi salat berjamaah, gerakan ruku atau sujud, ga akan nyium pantat orang yang di depan.

Ingin ke luar negeri.

Categories
Bebas

Aku dan Penderitaan Kita Sehari-Hari

Mata melotot
Hidung kembang kempis
Bumi gonjang-ganjing

Mulutku bergetar
Peluh menetes di dahiku yang lebih luas daripada luas hutan yang ditebang secara ilegal
Aku mengomando tanganku untuk tetap mencengkram kaki jenjang milikku
Aku akan tetap membaca rangkaian kalimat itu
Untuk mengalihkan pikiranku
Dari besarnya penderitaan yang kualami
Tetapi, tujuanku tetap satu

Sempat terlintas dalam pikirku
Aku tak mungkin sanggup
Tapi ini sudah terlalu lama
Lebih lama daripada merancang reshuffle kabinet
Tetapi eh tetapi
Tak mungkin aku biarkan ini menyebar, mengakar, Bung!
Harus aku rebut kemerdekaan itu!

Sepertinya tak ada orang
Tak ada orangutan
Tak ada orang lucu
Seperti aku

Inginku hapus bait puisi yang kutulis sebelumnya
Karena aku tak ingin semuanya tahu
Walaupun kutahu
Bahwa semua orang sudah tahu

Kembali lagi
Perasaanku resah
Jika kuteriakkan apa yang kurasa
Jeritan seorang wanita takkan mampu mencapai tinggi nada yang kumau
Mungkin Ceu Rohim, kalau siang dipanggil Bang Rohim, mampu
Apaan sih aku

Sungguh
Biarkan aku sendiri
Menghadapi semua ini
Aku yakin, aku bisa
Seperti ular, seperti ular
Yang sangat berbisa, sangat berbisa
Oh

Tolong akhiri penderitaan ini!
Yang kunanti hanya satu:
Plung!

20111227-214359.jpg

Categories
Bebas

Lampu

Ini adalah lampu.

Sekali tekan tombol langsung menyala. Sekali lagi ditekan langsung padam.

Ini adalah lampu.

Kamu lempar ke lantai pasti pecah. Kamu lempar ke dinding juga pasti pecah.

Kini, bukan dia yang dilempar. Dia yang akan menjadi sasaran lempar.

Aku lempari batu!

Tidak pecah.

Aku lempari gunting!

Tidak pecah.

Aku lempari kertas!

Tidak pecah.

Aku lempari caci maki!

Tidak bergeming.

Aku lempari jari jemari!

Namun tak jadi, karena aku tak terlalu berani untuk memotong jariku hanya karena hal ini.

Aku lempari uang!

Penyanyi dangdut langsung menyambar uang itu, dan pantatnya yang dipenuhi lemak itu tak sengaja menyenggol lampu itu hingga pecah.

Orang-orang cina yang kaget pun sampai bisa membelalakkan mata saking kagetnya.

Aku pun kaget.

Aku kaget mengapa orang cina bisa melotot.

Belotot!

Categories
Masa Belia

Sekarang Semester Genap

Semester genap, semester genap! Sebentar lagi penjurusan. Saya ingin coba tes minat dan bakat tapi di mana ya? Dengan tes minat dan bakat itu jadi saya tak usah susah-susah menekuni bidang yang mungkin saja saya tak ahli di situ. Semester lalu saya dapat ranking 2 di kelas, dan ranking sekolah adalaaaaaah 25! Iya tepat 25! Ah saya tak ingin beranjak. Tapi kita setiap saat harus ada perubahan. Ke arah yang positif tentunya.

Tadi saya privat. Belajarnya matematika bab logika. Kini, mata saya sudah terbuka tentang pelajaran ini, tadi pagi saat belajar di sekolah mata saya terbuka, melotot. Melotot sampai juling. Saya tak tahu apa itu tabel kebenaran, karena yang dijelaskan itu ya tidak jelas. Tidak jelas bukan karena saya miopi. Saya duduk paling depan, jadi mana mungkin tak terlihat apa yang ditulis di papan tulis. Tapi saya juga tak menderita hipermetropi. Karena saya masih muda, tak mungkin lah presbiopi. Saya masih muda. Saya masih muda. Darah muda, darahnya para remaja.

Di pertengahan bulan Februari nanti saya akan mengikuti Giants Cup, yang berarti mengharuskan saya untuk bolos selama satu minggu. Bisa dibilang liburan, liburan penuh dengan rasa cemas akan pelajaran yang tertinggal. Sejak saya menduduki bangku sekolah menengah atas, saya jadi lebih rajin belajar. Untuk apa? Mendapat nilai bagus, mendapat ranking, lalu bisa menjebol pintu universitas mana saja dengan PMDK. Tapi, jurusan apa nanti yang akan saya ambil? Teman-teman sebarisan saya sudah menentukan jurusan apa yang akan mereka kejar, sementara saya? Belum. Saya tak tahu apa bakat saya maupun minat saya. Saya berminat main dan berbakat dalam menjulingkan mata. Tapi mana mungkin  nantinya saya masuk SBM, Sekolah Bermain dan Menjuling, lalu bikin tesis berjudul “Teknik Main dengan Hati Happy” atau “Cara Menjulingkan Mata Tanpa Rasa Sakit dan Tidak Menimbulkan Cacat Permanen”.

Liburan semester ganjil kemarin saya pergi ke Bali. Untuk pertama kalinya. Yang saya sesalkan saat perjalanan liburan kemarin itu saat saya sedang membeli oleh-oleh. Saya sedang mengambil alat musik maracas dan ada satu lagi tak tahu apa namanya, serta ada barang lain juga yang saya bawa. Saya mau tunjukkan ke mama, apa boleh itu semua saya beli. Tak tahunya, bule mengira saya penjaga toko oleh-oleh itu hanya karena saya membawa banyak barang tanpa keranjang belanja dan saya adalah orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi.

Pribumi harusnya menjadi tuan di negara sendiri

Pribumi harusnya menjadi tuan di daerah sendiri

Saya bukan berasal dari Bali

Saya berasal dari Kota Bandung

Bandung yang dibendung gunung

Gunung, mengingatkan saya pada toko ransel gunung

Mengingatkan saya pada monster yeti

Yeti, hei itu nama guru bahasa Indonesia saya di sekolah dasar

Beliau mengajarkan saya berbahasa Indonesia

Beliau mengajarkan saya membuat puisi

Tapi bukan puisi yang seperti ini

Puisi yang penuh dengan keindahan

Kerinduan

Kematian

Kehidupan

Keajaiban

Ya,

Dua puluh lima adalah nomor punggung saya

Kehidupan softball saya akhir-akhir ini sedikit kurang menyenangkan. Hei, kemana teman-teman saya? Mereka hilang dengan kesibukannya itu. Ya sudahlah, saya pun tak peduli. Saya sedang semangat latihan pitching. Jadi saya bisa menguasai semua posisi softball. Saya sudah pernah jaga di outfield, second base,  catcher dan shortstop. Saya sih tak ada niat untuk bermain di posisi pitcher, hanya ingin bisa pitching saja. Karena beban jadi pitcher itu berat. Harus kuat mental dan jaga emosi. Emosi saya? Labil. Sewaktu-waktu bisa saja saya menangis dan menjerit di tengah pertandingan. Namun entahlah saya tak tahu, karena saya belum pernah bertingkah seperti itu. Paling menangis karena latian pitching itu harus jaga emosi, jadi begitu saat mengarahkan bola itu terasa begitu sulit, ya jangan langsung depresi. Tapi saya beda. Saya depresi.

Dalam waktu satu bulan, saya ganti potongan rambut saya duakali. Hal itu tercatat dalam rekor pribadi saya. Karena mana sudi MURI  menjadikannya rekor. Rektor itu yang ada di universitas ya? Yang umumnya bapak-bapak yang sudah tua? Eh apa bukan? Kalo bukan maaf ya pak. Ih Dhila nulis apaan tuh ga penting. Maklumlah, peer udah selesai, hati senang, girang gimbal.

Saya sedang meneliti waria. Saya sangat ingin tahu tentang waria. Mulai dari yang hidungnya bersilikon sampai yang kakinya berbetiskan talas berbulu. Saya turut berduka cita atas menginggalnya waria karena suntik silikon. Saya tahu berita ini dua hari kemarin, tak sengaja, saat saya mau nonton spongebob eh malah si Bobby a.k.a Barbara, bohong deng nama warianya bukan Bobby, tapi saya tak tahu namanya siapa. Namanya juga kebetulan. Bukan, kebetulan bukan nama warianya. Daripada menyebut waria, saya lebih suka menyebut banci. Kenapa? Karena lebih fancy. Menurut saya.

Saya ingin buat cerpen. Saya ingin menggambar. Saya ingin bermain gitar.

Akhir kata,

Monyet ee dipinggir kali, yu dadah yu marii.

Categories
Cerita Pendek

Sungguh Tak Sengaja Kubuat Lidahku Membara

Pinggang saya sudah hangat serelah fisioterapi.

Mata saya sudah terbuka, terbangun dari tidur yang lelap di ruang fisioterapi.

Anget gitu, enaknya memang tidur.

Namun tak dinyana, perut saya memberontak dan membuat mulut saya terbuka. Bukan udara yang mulut saya perlukan, udara masih dengan lancarnya keluar masuk dari hidung saya, tapi makanan.

Ya, saya lapar.

Saya ajak mama saya untuk makan setelah membeli beberapa jendela dunia.

Saya bukan dari toko meubel, saya dari toko buku. Mereka menjual jendela-jendela dunia yang memberi pencerahan pada pikiran saya dan menghibur saya di hari yang terasa begitu lama tanpa kegiatan.

Duduk saya terdiam. Tapi saya tak diam sepenuhnya. Bola mata saya menggeliat bergerak gerak dengan lincahnya di lubang mata, memindai menu begitu cepat.

Nasi goreng. Sungguh pilihan yang tepat mengisi perut yang lapar.

Detik-detik saya lewati dengan membaca komik. Membunuh waktu saat menunggu nasi goreng tersaji.

JRENG! Nasi gorengnya sudah tersaji.

Saya mulai melahap nasi dan telor ceplok yang merupakan pelengkap nasi goreng. Kehadiran telor ceplok yang disajikan bersama nasi goreng sungguh tak bisa disubtitusi.

Namun saya masih saja membaca saat saya sedang makan. Rasanya memang nikmat. Membaca sambil makan. Menyatukan dua hobi saya dalam satu waktu yang bersamaan.

Tapi rasa itu hilang sudah.

Tiba-tiba muncul rasa pedas yang sungguh luar biasa terasa di lidah saya. Seperti petir yang menggelegar dan menyambar rumah-rumah yang tidak memasang penangkal petir diatas atap.

Kukeluarkan sesuatu yang sepertinya datang dari neraka itu dari mulut saya. Saya bertanya-tanya benda apakah yang membuat airmata saya hingga mengalir?

CABAI HIJAU.

Sungguh ku tak menyangka. Tapi ku tak bisa menyana. Mungkin ini hukuman tuhan karena makan sambil membaca.

peppergreenchile