Filosofi Bola Ubi

Aku selalu ingat gigitan bola ubi pertamaku. Hangat, nikmat.

Selang waktu berlalu, aku rindu. Tapi tak rela kalau harus bayar sepuluh ribu. Terlintas dalam pikiranku, bisa membuatnya sendiri sepertinya seru.

Kuajak Faiz, adikku, untuk pergi siang itu ke Supermarket Borma. Kata Abdul temanku, di sana itu toko serba ada. Kecuali jodoh yang mungkin masih di tangan Tuhan, atau di beberapa puluh kesempatan di-swipe kanan.

Kuambil beberapa bahan dan peralatan sesuai cara pembuatannya di Cookpad. Saat melihat beberapa pilihan timbangan dapur, hatiku berpendapat, rasanya ini tak tepat. Rasanya, harga timbangannya membuatku ingin mengumpat. Kubilang pada Faiz, “yuk, kita pindah tempat!”

Tibalah kami di sebuah toko di jalan Kalipah Apo. Kutemukan timbangan serupa dengan yang kulihat tadi, dengan harga yang lebih memikat hati. Namun, setelah dihitung kembali, jika ditambah dengan ongkos kami ke sini, timbangan pertama harganya jadi lebih murah sedikit dibanding yang ini. Sebelum rasa sesal menghampiri, segera kututup dengan pemikiran “tak apa, ini biaya pembelajaran, agar tak mengalaminya di masa depan.” Lagipula, Faiz juga senang kuajak berjalan-jalan! Tak berat kan, ya, bawa-bawa kantong belanjaan?

Processed with VSCO with a6 preset

Sesampainya di rumah, kujajarkan semua bahan dan peralatan di atas meja secara artsy. Tujuannya, biar fotonya bisa lolos standar untuk masuk dalam postingan ini.

Processed with VSCO with a6 preset

Lalu, kutimbanglah itu si Ubi Cilembu. Oh iya, ada satu jenis lainnya yang ikut masuk dalam belanjaanku, yaitu si Ubi Jepang yang kulitnya berwarna ungu. Ternyata eh ternyata, saat dibelah, warna daging si Ubi Jepang sama dengan si Ubi Cilembu. Aku sedikit merasa tertipu. Memang, dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati, eh ubi, siapa yang tahu.

Processed with VSCO with a6 preset

Mengupas ubi ternyata memakan waktu dan menghabiskan kesabaranku. Tapi ini semua pasti akan setimpal, harapku.

Processed with VSCO with a6 preset

Kuletakkan ubi dalam panci kukus di atas api selama sepuluh menit bersama dengan rasa cemasku.

Processed with VSCO with a6 preset

Kucium, wangi! Kugigit, manis! Sudahlah terbayang bagaimana crispy-crispy lembutnya setelah digoreng nanti. Tapi, itu masih nanti. Semoga akan terjadi. Yang penting, kubejek-bejek dulu ubi panas ini dengan garpu sepenuh hati.

Processed with VSCO with a6 preset

Lalu, tepung dan gulanya harus diayak saat dicampurkan. Supaya mereka berbaur dengan baik, tidak nge-geng dengan teman-temannya sendiri. Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Kalau bikin bola ubi-nya di Indonesia, berarti harus menganut prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Processed with VSCO with a6 preset

Ada dua jenis adonan yang kubuat, satu ditambah maizena dan baking powder, dan yang satunya lagi hanya tapioka saja. Kenapa bisa beda jauh gitu komposisinya? Karena ada dua ibu-ibu di Cookpad yang nulis resep bola ubi dan mereka punya versinya sendiri-sendiri. Walau begitu, dua-duanya berhasil menciptakan bola ubi yang inspiratif. Menghargai kerja keras mereka, kucoba aja untuk bikin dua-duanya. Tidak ada salahnya meskipun kutidak tahu apakah ada benarnya.

Sementara itu, Faiz kuminta untuk menawarkan diri membantu mencucikan piring. Karena dia baik dan dia adalah adikku, dia pun mencucikan piring. Mungkin supaya kebagian bola ubi juga. Tapi, karena kepiawaianku dalam memasak itu masih belum ada buktinya, praduga tadi tak bisa masuk hitungan.

Processed with VSCO with a6 preset

Setelah 30 menitan, saatnya si adonan ubi dibulat-bulatkan beserta secercah harapan.

Processed with VSCO with a6 preset

Cemplungkan ke minyak goreng yang masih suhu ruangan, lalu panaskan di atas api beserta calon-calon bola ubi yang sudah berenang di dalamnya. Wow, mereka pun tumbuh dewasa.

Processed with VSCO with a6 preset

Tapi, percobaan pertamaku gagal. Mereka meninggal dengan bentuk yang mengenaskan. Mereka menempel di bagian bawah wajan. Langsung kuganti sama wajan yang berlapis teflon. Tuhan, kok bisa terjadi seperti ini padaku? Seingatku, wajan abang bola ubi itu warnanya abu-abu…

Processed with VSCO with a6 preset

Kata ibu-ibu di internet, menggoreng bola ubi itu harus dua kali. Yang pertama supaya dalamnya matang. Yang kedua, teknik menggorengnya sambil ditekan-tekan supaya bola ubinya mengembang. Semakin ditekan, semakin mengembang. Hebat sekali bola ubi ini, tidak menyerah dalam tekanan, penuh semangat juang!

Tapi, sepertinya hal itu tidak berlaku pada bola ubiku. Mereka layu. Mataku pun menjadi sayu.

Processed with VSCO with 6 preset

Selanjutnya, kugoreng calon bola ubi yang ditambahi maizena dan baking powder. Hasilnya, wih bentuknya angker! Aku pun semakin minder.

Processed with VSCO with a6 preset

Untungnya, ada Faiz yang setia menanti dan sedia dengan apresiasi. Lihat wajahnya! Dengan penuh ketidakterpaksaan, keikhlasan, dan ketidaktahuan, dia pun melahap si bola ubi dengan berani. Tak hanya itu, dia pun mengambil lagi, dan lagi. Saya pun mencoba menggoreng dengan lebih baik lagi, dan lagi.

Processed with VSCO with a6 preset

Namun, karena kelamaan dibikin menunggu, siapa sih yang tidak jemu?

Processed with VSCO with a6 preset

Sudah jam sepuluh malam dan masih belum ada titik temunya. Sudahlah, lebih baik kukeluarkan uang sepuluh ribu saja esok hari untuk menebus bola ubi di sebuah warung di jalan Pasirkaliki.

Mungkin aku memang tidak terlahir dengan onderdil yang memadai untuk membuat bola ubi. Sebaiknya-baiknya hal yang dapat kulakukan setelahnya adalah menceritakan kegagalanku ini padamu yang sudah setia membaca tulisanku sampai pada kalimat ini. Pesanku, habiskanlah waktu untuk menjadi ahli di hal yang telah dipuji oleh manusia lainnya karena itu tandanya kamu sudah teruji keandalannya. Kamu terlahir onderdil-nya. Mungkin ya.

Terima kasih dan sampai jumpa di kemudian hari!


Posted

in

,

by

Comments

One response to “Filosofi Bola Ubi”

  1. Diana Alfi Ainun Nur Khasanah 25RPL Avatar
    Diana Alfi Ainun Nur Khasanah 25RPL

    nice,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *