Categories
Fakta

Ekskursi, Bukan Eks-Kursi, Bekas Kursi: Part 4

[Peringatan: Agak serem. Saya aja takut buat baca ulang.]

Sore itu, sekitar pukul empat, tim Religi mau bergerak mencari info ke pesantren, lagi. Soalnya ada narasumber yang belum sempat diwawancarai. Tempatnya lumayan jauh, ada di sebelah utara desa sih, tapi harus memutar. Tepatnya, pesantren itu ada di dusun Sukalaksana. Saya diajak untuk turut serta, kata Tedo saya dibutuhkan untuk foto-foto. Jadi, kalau Dhila nggak bisa foto, Dhila gak ada gunanya. Malah langsung disuruh pulang ke Bandung aja gitu. Saya memutuskan ikut pada akhirnya, mewakili tim Kekerabatan, soalnya tim Kekerabatan itu harus menjamah seluruh dusun dalam desa ini, menggali, mengorek, dan mencongkel semua informasi dari setiap kepala yang ada di desa ini.

Perjalanannya ternyata jauh, euy. Dua kalinya jarak dari rumah ke SD Pamoyanan. Dua setengah kalinya malah. Jalannya banyak yang nanjak, berbatu, dan becek. Gerimis sudah turun sesaat sebelum kami berangkat. Saya berbagi payung dengan Parjo. Kami harus berjalan beriringan sampai ke pesantren. Kami harus saling mem-back up kalau-kalau salah satu di antara kami yang kepeleset.

Para pencari kebenaran sore itu ada lumayan banyak. Saya, Parjo, Tedo, Christie, Ubay, Jihan, Adit Otot, Devina, Alvin Pek, dan tak lupa tutor lapangan kita yang diimpor dari Arab, Kak Samir.

Di tengah perjalanan saya sempat menyesal, kenapa nggak pake jas hujan aja, daripada pake payung, kakinya masih kecipratan, tangannya pegel, dan gak bisa jalan kesana-kesini sesuka hati. Tapi kebayang sih, kalau kami semua pakai jas hujan. Hari sudah mulai gelap, sepuluh orang di tengah hujan mengenakan jas hujan berwarna gelap, berjalan terburu-buru dan ada juga yang terseok-seok, melintasi jalanan desa yang mulai sepi. Bisa-bisa kami dianggap kayak pengikut sekte terlarang yang mau mendoktrin orang desa dengan kedok bahwa kami adalah mahasiswa yang sedang meneliti desa, yang tergabung dalam acara yang bernama Ekskursi. Terus Ekskursi ini sebenarnya adalah hasil dari kode-kode sulit yang dirangkai sedemikian rupa hingga menghasilkan kata Ekskursi. Yakali.

IMG_5332

Sepanjang penglihatan kami di kiri dan kanan itu sawah semua, seringnya. Kadang ada rumah warga. Jarak antara satu rumah warga dengan rumah warga yang lain itu agak jauh saat kami melewati daerah Cikadu. Sawahnya lebih luas jika dibandingkan dengan sawah yang berada di daerah Cilengsir. Kami benar-benar berada di alam bebas.

Kami sampai di pesantren pukul 16.39. Presisi sekali, waktunya! Iya dong, kan dari awal ekskursi saya selalu menulis timeline perjalanan di jurnal mini. Padahal awalnya iseng di bis, gara-gara bosen, terus malah keterusan.

IMG_5337 IMG_5339Yang berdiri pakai baju putih itu Kak Samir.

Narasumber yang kami tanyai bernama Pak Ali. Kami dipersilakan masuk ke rumahnya yang baru saja beliau tempati sepuluh hari yang lalu. Penduduk sekitar yang membuatkan rumah itu untuknya sebab keberadaan Pak Ali di sana itu cukup berpengaruh. Pak Ali adalah seorang guru yang ahli di pelajaran agama namun mengajar pelajaran IPS juga karena pesantren itu kekurangan tenaga pengajar. Sebenarnya Pak Ali harusnya belum dipanggil Pak, soalnya baru beres kuliah dan belum nikah juga. Kalau dipanggil Kak Ali, boleh juga tuh, tapi Kak Seto juga dipanggil Kak padahal udah paruh baya dan punya anak. Mungkin karena tebal rambutnya masih sama seperti saat ia muda.

IMG_5342

Kak Ali bercerita bahwa di desa Padamaju ini, untuk menjadi guru harus ada persetujuan dari tokoh masyarakat. Berarti, sebagus apa pun guru itu, kalau nggak dibolehin, ya udah. Terus, di daerah sini kadang ada orang tua yang janjian buat nikahin anaknya, kalau anaknya sama-sama suka, ya lanjut terus. Terus, eh, terus lagi, dari daerah sini, anak-anak yang lulus SMP banyak yang langsung kerja. Banyaknya sih ke pabrik tahu yang ada di kota Cianjur, soalnya ada bos besarnya yang berasal dari sini. Kekerabatannya erat ya, cinta tanah kelahiran, dan ingin memajukan sumber daya desa.

IMG_5346Kiri-kanan: Ubay, Christie, Parjo, Tedo, Pak Ali, Alvin, Jihan, Saya, Adit, Devina

Setelah berbincang-bincang agak lama dengan Kak Ali, Kak Ali memanggilkan seorang narasumber lagi, yaitu Pak Dai Muslimah, salah satu orang tua yang anaknya disekolahkan di pesantren ini.

IMG_5348

Beliau bercerita banyak tentang pernikahan di daerah sini. Nggak terlalu kental banget perjodohannya, nikah di sini udah lebih ke suka sama suka. Lalu, beliau juga menjelaskan bahwa orang di sekitar sini lebih suka untuk menikah dengan orang yang sekitar sini juga, “ngapain nikah sama orang yang jauh, yang dekat juga ada.” Simpel sekali! Beliau berkata bahwan nikah muda sudah mulai jarang. Ukuran perempuan dewasa itu umur 15 tahun, lulus SMP baru boleh nikah, soalnya ada wajib belajar 9 tahun. Setelah itu, baru harus buru-buru nikah. Kalau nggak nikah-nikah, misalnya udah 19 tahun, itu dibilangnya perawan tua. Mungkin karena ini, bibi saya yang dulu bekerja di rumah saya minta berhenti, soalnya disuruh nikah. Udah 20 tahun, kalau nggak salah. Kasihan kan, di desanya, di Tasikmalaya, diomongin dan dikatain perawan tua, jadi harus mengikuti adat istiadat yang berlaku. Beda halnya dengan perempuan, laki-laki itu tidak adaaturan harus cepet-cepet nikah. Mau nikahnya ntar-ntar pas 30 tahun juga nggak apa-apa.

Selain mengobrol tentang pernikahan, kami juga ngobrol tentang religi, tapi lebih ke arah mitos-mitos yang beredar. Kami mengunjungi salah satu tempat yang diceritakan, diantar oleh Pak Ali. Kami ke Pasir Kareta, yaitu sebuah gundukan tanah yang menyerupai bukit kecil, di belakang masjid pesantren, menghadap ke arah lembah yang cukup besar dan bersebrangan dengan curug yang ternyata adalah curug yang direkomendasikan oleh tourguide cilik (baca part 1).

IMG_5349

Katanya, di Pasir Kareta ini, banyak warga yang suka denger ada suara kereta api berjalan. Suaranya pun jelas! Gejes gejes, gejes gejes. Padahal nggak ada rel kereta yang melintasi desa ini. Hih. Lalu, kami dikasih liat ada bagian Pasir Kareta ini yang agak ambles. Katanya eh katanya, itu tuh dulunya bunker tempat rakyat bersembunyi pas lagi zaman pemberontakan DI/TII. Ketauan, terus ditembakin orang-orang yang lagi sembunyinya, terus dibakar! Kalau gak salah inget sih gitu, gak dicatet di jurnal sih bagian ini, soalnya saya takut sendiri.

IMG_5354

Bayangkan, magrib-magrib yang katanya waktunya hantu-hantu bergentayangan menuju posnya masing-masing, kami menginjak Pasir Kareta dan menghadap ke curug yang biasanya dihuni banyak kuntilanak, dan di bawah kami adalah tempat bekas pembunuhan, dan baru pertama kali ke sini, kalau takut dan kabur malah bakalan nyasar ke sawah atau ke hutan, dan saya sangat penakut, dan akhirnya saya nggak tau cara menyelesaikan kalimat ini, dan… ah, saya nggak tahu harus gimana lagi deh.

IMG_5357

Saya dimintai Tedo untuk mengambil gambar Pasir Kareta dan tempat pembunuhan, terus saya iseng foto curug. Sebenernya sih pas saya masih di sana, saya gak kepikiran apa-apa, masih tenang-tenang aja, takutnya itu pas sekarang saya ngetik post ini. Kok bisa-bisanya saya berani ikut ke Pasir Kareta, itu aja sih.

Oh iya, ada hal penting yang kelupaan ditulis. Saat kami berangkat ke pesantren, ada empat teman kami dari tadi pagi pergi ke kecamatan, belum sampai rumah juga sampai magrib ini. Sekitar jam tiga, ada salah seorang dari mereka memberitahu kami lewat bbm bahwa mereka akan pergi ke curug. Nggak tau deh curug yang di mana. Yang pergi ke curug ini, empat-empatnya cewek alias perempuan! Duh. Mana udah gitu mereka tiba-tiba gak bisa dihubungi. Yang bawa handphone cuma satu orang kalau gak salah.

Saat kami sedang di pesantren, saya sudah mencoba mengontak teman yang standby di rumah, yaitu Evita, nanyain mereka sudah sampai belum. Yang standby di rumah tiga lagi sih, Gorija, Beni, dan Ngabdur. Tapi, saya nelfon Evita soalnya, soalnya, hmm gak ada alasan khusus sih.

Abis selesai lihat-lihat, kami pun bersiap balik lagi ke rumah, buru-buru, harus nyari yang belum pada pulang itu. Beneran panik, asli, udah magrib soalnya. Oh iya nih, selanjutnya Evita nelfon dan memberi tahu kabar baik, Erina dan Audya udah sampai rumah. Mereka berdua naik ojek. Kabar buruknya adalah… Calista dan Sisi, ojeknya pergi lebih duluan tapi mereka masih belum sampe rumah! Masa iya diculik? Gak lucu dong, diculik sama mang ojek di desa. Nggak di desa deh, di kota juga nggak lucu. Di mana-mana diculik itu nggak ada yang lucu sih.

Bergegas, formasi barisan kali ini, saya dan Parjo di depan, Tedo dan Christie, Ubay dan Jihan, dan paling belakang itu Kak Samir, Devina, Adit, dan Alvin. Hari sudah berubah menjadi malam. Senter pun dinyalakan. Sialnya, senter saya yang beli di Indomaret ini nggak terlalu terang. Remang-remang. Kuning remang-remang. Not reliable lah. Untung ada senter Tedo, putih menyilaukan.

Kami sudah berjalan sekitar sepuluh menit. Langkah saya dan Parjo agak cepat, soalnya banyak turunan, susah pelan-pelan. Di jalanan datar juga agak cepat sih, soalnya ingin cepat sampai rumah. Mana di luar dingin. Gerimis yang turun dari sore tadi belum saja berhenti. Kami pun tiba di turunan paling curam yang ada di perjalanan ini. Banyak pohon tinggi di kanan dan kiri. Di hadapan kami sawah-sawah terbentang dalam gelap. Kami berjalan di antara sawah-sawah, sunyi. Sesaat, Tedo tersadar… mana yang lain?

Perjalanan kami terhenti. Menunggui kawan yang tak kunjung menghampiri kami. Kami pun berbalik arah, menyusuri lagi tanjakan curam yang tak mau saya lewati lagi. Nihil. Tak ada seorang pun di sana. Tidak ada tanda-tanda.

Kami terpisah. Mungkin kami, atau mereka yang tersesat. Tetapi, kalau pun mereka tersesat, Tedo yakin mereka aman karena Kak Samir bersama mereka. Kami berdoa, semoga Tuhan bersama dengan kami.

Saya, Parjo, Tedo, dan Christie, kembali menyusuri jalan pulang. Setidaknya, kami kira ini adalah jalan pulang.

Awalnya, semua masih terasa familiar. Ingatan kami terpaut dengan apa yang kami obrolkan tadi sore di jalan yang kami lewati. “Oh bener kok aku yakin kita lewat sini, tadi kan Dhila di sini nanya ‘kita udah seberapanya perjalanan nih, Ted?'”, ujar Tedo.

Lama-kelamaan, tak ada lagi pemandangan yang familiar bagi kami. Kami baru melihatnya pertama kali. Malam ini. Kecemasan dan ketakutan saya meningkat. Tapi, pingsan di sini sih gak lucu. Bangun-bangun bisa-bisa bukan di sini lagi. Bukan di dunia sini lagi. Ah, khayalan saya terlalu jauh, nampaknya.

Beruntungnya, kami menemukan kios yang menyala. Masih buka. Di dalamnya ada orang. Benar-benar orang. “Punten, Kang, jalan ke Kantor Desa (patokan kami untuk pulang), ke mana ya, Kang?”, tanya Tedo. “Kantor Desa? Wah, jauh muternya, di sebelah sana (menunjuk ke arah kami datang)”, ujar salah satu pemuda. “Kalau ke sebelah sana mah jalannya jauh, harusnya tadi belok pas di pos ronda yang di sebelah kanan, kira-kira 2 tanjakan dari sini.” Ya, 2 tanjakan. Dua tanjakan di desa itu, gak bisa dibilang deket. Saya ingatkan sekali lagi, ada perbedaan persepsi jarak antara masyarakat yang tinggal di desa dan masyarakat yang tinggal di kota. Jauhnya kota, adalah dekatnya desa.

Awalnya, kami tidak percaya. Kami tetap saja meneruskan jalan ke arah yang kami yakini, berlawanan dengan arah yang diberitahu oleh para pemuda di kios tadi.

Sudah agak jauh, tiba-tiba Tedo nggak merasa yakin dengan jalan yang kami pilih. Sawah yang kami lihat selama perjalanan kami ke pesantren tidak sebanyak ini. Aduh, kenapa tadi nggak nurut aja ya sama orang sini. Habisnya, wajah mereka tidak menandakan mereka yakin dengan jawaban mereka sendiri.

Tiba-tiba handphone saya berdering. Dari Evita. “Kak Samir dan rombongannya sudah dampe rumah nih, udah ketemu sama Callista dan Sisi di perjalanan, mereka udah selamat deh sampe rumah, kalian di mana?” Kami nyasar. Ya, ya, ya… YAAMPUN APA YANG HARUS KUPERBUAT?! Tadinya di barisan paling depan, sekarang paling belakangan sampe rumah, dan pake acara nyasar. Masih lebih rame nonton acara sunatan massal deh, liat anak jerit-jerit. Haft.

Rumah-rumah yang kami lewati masih saja sepi. Tidak ada yang keluar rumah magrib-magrib gini. Semua pintunya ditutup. Tapi, tidak terdengar ada aktivitas manusia di dalam rumah-rumah ini. Yang terdengar hanya suara dan langkah kaki kami. Huhu, pengen nangis. Pengen sekali.

Biar nggak salah lagi, kami bertanya lebih dalam pada pemuda-pemuda dalam kios tadi, lagi. Setelah mendapat arahan yang cukup jelas, kami mulai berjalan, ke arah kami datang saat menemukan kios ini, lagi.

Duh, mana licinnya nggak nyantai. Gelapnya nggak nyantai. Jumlah pohonnya nggak nyantai. Sepinya nggak nyantai. Tedo dan Christie juga gandengannya nggak nyantai. Cie.

Ketakutan ini diperparah dengan perkataan Tedo, “Dhil… jangan nyenter-nyenter ke arah atas, ya (ke arah pohon-pohon)” AAAARGGGGHHHHH!!!! MAU BOBO DI RUMAH AJA DI KASUR GAK MAU SEREM-SEREMAN DI ANTAH BERANTAH!

Mana biasanya di semua film hantu yang saya tonton (bisa dihitung dalam hitungan jari), pemerannya itu satu-satu ngilang, entah itu tersesat, diapa-apain hantu, atau mati. Saya lagi ekskursi, nggak lagi jadi pemeran film hantu di tv.

Setelah banyak hutan dan sawah, kami akhirnya rumah penduduk, berjejer gitu. Depan-depanan sama hutan sih. Tiba-tiba, ada yang setengah berteriak, “Pak!”, lalu suara pintu ditutup. MEN! APAAN ITU MEN? Saya yakin itu suara perempuan. Perempuannya yang masih satu dunia dengan saya. Kami memutuskan untuk menghampiri asal suara tersebut, yaitu sebuah rumah kayu yang di depannya tertempel poster himbauan kesehatan. “Permisi, permisi, Bu, punten, mau nanya” ujar Tedo. Dari tadi Tedo terus yang ngomong, ya. Benar-benar calon suami yang pemberani untuk mengayomi keluarganya, apalagi mengayomi Christie.

Sekonyong-konyong pintu itu terbuka dan dari baliknya muncul satu keluarga lengkap. Ada bapak, ibu, dan dua anak. Hm. Keluarga yang patuh dengan program KB. Kami pun bertanya, ke mana kami harus berjalan? “Ini, Bu, Pak, kami mau ke rumah Pak Syahria (rumah hostfam), yang di Cilengsir, ke arah mana ya?” Salah satu anak pun nyeletuk, dan celetukannya bikin saya terjatuh secara psikologis, “Hah, jauh banget!” Yak, udah nyasar, dan nyasarnya jauh kata orang desanya juga. Mereka pun memberi tahu jalan yang benar pada kami. Setelah itu, mereka mengasihani kami karena nyasar dan harus berjalan di kegelapan. Kami disuruh masuk dulu, minum dulu barangkali. Nahloh, waspada dulu deh. Udah malem masalahnya. Kalau rumah itu ternyata bukan rumah, dan orang itu belum tentu orang, gimana? Nggak deng, takut kemaleman dan tidak mau merepotkan.

Kami melanjutkan lagi perjalanan kami. Kami rasa dua tanjakan itu sudah kami lewati. Berarti, bentar lagi ada pos ronda, di mana kah dia?

Ketemu satu pos ronda, tapi kok pas liat ke kanan, kayak gak ada jalan? Sempit gitu. Bukan ini sih, fix. Kami jalan lagi. Beberapa detik kemudian, di depan ada cahaya yang menyilaukan, kami pikir ini lah akhir dari hidup kami. Ternyata bukan. Ada motor mau lewat. Sekalian nanya jalan lagi nih, kesempatan. “Pak, pak, permisi mau nanya, Pak..” Motornya berhenti. “Loh, ini kan yang tadi!” ujar seseorang yang mengendarai motor, yang lain dan tak bukan adalah Pak Ali. Ternyata, seseorang yang dibonceng Pak Ali adalah Pak Dai. Dua narasumber pesantren kami, lagi naik motor mau pergi ke kantor desa. Mereka ini mungkin orang kiriman Tuhan untuk membantu kami dari kesulitan.

“Itu harusnya belok di situ” kata Pak Ali sambil menunjuk pos ronda yang tadi kami underestimate-kan untuk menjadi patokan tempat kami belok.

Malam ini kami belajar, jangan berburuk sangka terlebih dahulu, siapa tahu memang itu yang benar.

Setelah sedikit berkeluh kesah tentang kejadian yang sedang kami alami pada dua makhluk kiriman Tuhan ini, kami pun berpisah dan mengambil jalan kami masing-masing.

Jalanan setapak ini lumayan kecil, hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan motor. Di sepanjang jalanan ini, pohon-pohon tinggi berjajar di kanan dan kiri. Pepohonannya lebih padat dari jalan yang sebelumnya kami lewati. Sudah beberapa menit berjalan dan kami masih belum menemukan rumah penduduk.

Tak lama kemudian, ada pesawahan dan ada rumah. Rumahnya lumayan bagus, terbuat dari semen, ya mirip-mirip sama rumah kecil yang ada di perkotaan. Ada garasi, halaman, dan dipagari.

Kami bertanya lagi di sini. Lebih tepatnya memaksa untuk bertanya. Kami masuk ke halaman rumah, dan mengetuk pintu rumah ini, sambil bilang “Bu, punten, bu, pak!”

Ada seseorang perempuan, tepatnya ibu-ibu mengintip kami dari balik tirai jendela yang terletak di sebelah pintu. Dia melihat kami takut-takut. “Bu, punten, mau nanya?”, “Ya?”, “Jalanan ke SD Pamoyanan (patokan tempat yang kami ingat) ke mana, ya?” Ibu ini menunjuk ke luar rumah dari balik jendela. Dia masih ragu untuk membukakan pintu untuk berbicara langsung dengan kami. Tapi, karena kami nggak ngerti-ngerti dengan arahan darinya, ibu ini pun akhirnya membuka pintu dan dengan wajah masih agak was-was, menjelaskan arah jalan pada kami. Sepertinya ibu ini juga menjelaskannya dengan terburu-buru, ingin cepat-cepat tutup pintu. Mungkin ada sinetron yang lagi rame-ramenya, atau risih dengan adanya kami bertanya malam-malam begini. Maaf, ya, bu, kita sih pinginnya juga nggak nyasar.

IMG_5608

Singkat cerita, kami menemukan SD Pamoyanan, hore! Tapi kami muncul dari bagian belakang SD.

Adzan isya berkumandang. Kali ini, kami sudah bisa berjalan dengan perasaan lega. We’re back on track. Kalau di jalanan Pamoyanan ini sih, saya sudah hafal, sambil merem juga bisa, paling salah-salah cuma nyemplung ke sawah.

Kami pun tiba di belokan ke arah Cilengsir yang ada warungnya. Saat mau belok, ternyata di warung itu ada dua sosok pria, Ubay dan Adit! Kata mereka, kondisi di rumah lagi runyam-runyamnya. Kak Samir ditelfonin Kak Bayu, Pak Awi, dan pokoknya desa-desa lain pada tau kalau Calista dan Sisi tadinya ilang, entah nyebar dari mana deh. Terus di rumah, Audya lagi pucat pasi, soalnya ada beberapa foto dia di curug ternyata ada yang “ikutan” di foto. MEN!

Speechless.

Categories
Fakta

Ekskursi, Bukan Eks-Kursi, Bekas Kursi

Assalamualaikum!

Tahukah Anda bahwa selama tanggal 17-20 April 2013 saya tidak berada di kamar saya? Tentu saja tidak. Maka dari itu, saya rasa, ini dia saatnya untuk Anda mengetahui segala-galanya! Nggak segala-galanya juga sih. Yaaa, sebagian besar deh.

Tanggal yang saya tulis di atas adalah tanggal yang agung di kancah kehidupan mahasiswa SBM ITB angkatan 2015, menurut saya. Mengapa? Ini adalah saatnya bagi saya untuk mengecek apakah saya bisa bertahan hidup apabila jauh dari hidup yang selama ini jalani. Mandi dua kali, harus pakai air hangat. Sebelum naik ke kasur, sebadan-badan harus steril dari debu dan kotoran. Harus ada dua bantal, satu guling, dan satu selimut yang menemani tidur saya. Berbagi kamar dengan orang lain. Ngobrol seperlunya dan semaunya. Nggak makan mie instan (ini sih wajib harusnya). Jaket sekali pake, langsung cuci.

Di sini saya dituntut untuk bisa bersosialisasi sepanjang hari, di tempat yang belum pernah saya jamah. Mengakrabkan diri dalam waktu singkat. Mencuci piring, ah saya paling nggak suka cuci piring, apalagi piring bekas orang lain (saya tahu ini mengkhawatirkan bagi masa depan saya nanti kalau jadi ibu rumah tangga). Berjalan jauh berkilo-kilo. Ou yea.

IMG_5283

***

Pagi itu, bis berangkat sekitar pukul enam. Roda bis belum berputar begitu lama, orang-orang di dalamnya sudah mulai berguguran. Gugur dan diterbangkan ke alam mimpi. Saya duduk terdiam dalam sunyi. Gila gak tuh, gaya bahasanya? Asyik bener. Lanjutin lagi ah.

Saya duduk di barisan agak belakang. Pemandangan yang terlihat hanya bantalan kepala kursi dan kepala teman. Kalau yang terlihat bantalan kepala kursi dan pantat teman, tentu beda lagi ceritanya.

Lama-lama saya bosan. Tidak ada yang bisa diajak bercanda. Sudah tidur semua. Saya tidak bisa tidur dan ini tidak adil. Saya tidak adil karena menyalahkan orang lain. Pada akhirnya, saya cari kegiatan sendiri.

Pertama-tama, saya pindah ke barisan paling depan, belakang supir. Di sana ada Kak Bayu. Untungnya, Kak Bayu belum tidur. Saya punya teman untuk diajak bicara.

Duduk di barisan paling depan adalah hal yang menyenangkan. Banyak pemandangan untuk dilihat tanpa harus terhalangi apa pun. Apalagi pemandangan yang dapat ditangkap oleh kaca depan bis. Serasa menonton film 3D. Senang sekali.

Kegiatan selanjutnya adalah bermain games “Dadahin Orang”. Saya main games ini sama Werfan, yang juga duduk di barisan paling depan. Banyak sekali respons orang yang kami tangkap. Ada yang langsung dadahin balik. Ada yang senyum dulu baru dadahin balik. Ada yang bengong, senyum, baru dadahin balik. Ada yang bengong, lalu setelah bis berlalu, barulah ia dadahin balik. Terus ada juga sih yang bengong doang dan nggak ngapa-ngapain, kecuali bengong. Ini games yang seru! Dapat menentukan kecepatan berpikir seseorang. Tapi, games ini juga dipengaruhi tingkat ke-elo-tuh-siapa-dadahin-gue yang dimiliki kita sebagai individu.

Bosan bermain games “Dadahin Orang”, saya menggambar di jurnal kecil saya. Selain menggambar, saya juga mencatat apa yang saya lakukan saat itu. Sekarang, jurnal ini secara official saya nobatkan sebagai Jurnal Ekskursi. Ya, nggak cuma twitter doang yang punya official account. Dalam jurnal ini, saya menuliskan apa yang ini saya tulis, entah itu beresensi atau tidak. Nih contohnya, saya menulis: “10.34 – Werfan pipis. Pak Awi duduk di kursi kenek.”, “19.30 – Makan malam sambil nonton Tendangan Madun.”, “10.28 – Ojan rapiin rambut.”, “10.29 – Ojan rapiin rambut.”

Banyak hal unik yang saya lihat di sepanjang perjalanan saya dari Bandung ke Cianjur, tepatnya ke Kecamatan Pagelaran. Saya lihat ada selang panjang yang disetting layaknya kabel tiang listrik yang dihubungkan ke rumah-rumah. Rupanya, selang ini bukan dummy-nya tiang listrik. Punya fungsi yang mulia. Mengalirkan air yang dipompa dari sungai. Wah, wah.

Ada juga papan yang bertuliskan “SPIRITUAL AA GAIB”. Papan ini diikat ke tiang dan ditancapkan di pinggir jalan raya. Rupanya mengiklankan dari mulut ke mulut saya tidak cukup, ya. Jangan-jangan punya akun twitter juga. Kalau pun ada, mungkin isinya seperti ini: “Sudah tersedia, jin impor dari Arabia. Siap untuk menemani Anda menuju cahaya kesuksesan. Ngepet sudah tidak zaman.”

Perjalanan menuju tujuan kami ini memakan waktu 5 jam. Dua jam di jalanan bagus, tiga jam di jalanan berbatu dan bolong-bolong. Argh, argh. Ibarat kita tiba-tiba mukanya berjerawat batu dan bolong-bolong bekas jerawat. Nggak deng. Saya rasa ini bukan perbandingan dan pengibaratan yang tepat.

Oh iya, saya mau meralat perkataan saya yang sebelumnya. Ini nggak kayak nonton film 3D, tapi 4D. Goncangannya benar-benar terasa. Saat bis melewati jalan rusak, tubuh saya pun ikut terombang-ambing mengikuti display kaca depan.

Kami sampai di kantor kecamatan pukul 11.50. Di sana ada penyambutan oleh staf kecamatan yang dilakukan secara formal. Saya tidak suka hal-hal berbau formal. Membuat saya menjadi mual.

Ini dia bagian serunya. Waktunya seluruh kelompok untuk didistribusikan (sepertinya bukan pilihan kata yang tepat) ke desa masing-masing. Ada 12 kelompok untuk 12 desa. Kami semua dimasukkan dalam pick up. Naik sendiri ke atas pick up sih, sebenernya. Kebayang nggak serunya kayak apa? Pengalaman pertama kalinya saya diangkut pakai mobil bak terbuka! Saking semangatnya sampai nyanyi yel-yel “Orieza sativa, oooo~” berulang-ulang sampai capek. Orieza adalah nama teman saya, dia bertubuh besar bagaikan beruang tetapi lucu. Bagaikan panda aja deh, kayak Po di Kungfu Panda.

IMG_5241

Kelompok saya kebagian di desa Padamaju. Lokasinya cukup jauh dan agak sulit diakses jika tidak menggunakan motor atau jalan kaki. Mobil hanya bisa mengakses daerah desa tertentu. Jalan menuju desa Padamaju ini sungguh berbatu dan dihiasi dengan tanjakan dalam berbagai level. Level akhirnya mungkin bisa disebut “Rock Climbing”.

IMG_5457

Kami tiba di desa Padamaju pada pukul satu. Hostfam (yes, I said hostfam, biar keren) yang menerima kami di sana adalah keluarga Pak Sahriya. Pak Sahriya adalah seorang pengusaha meubel yang juga merupakan salah satu orang yang dipercaya warga desa untuk mempunyai jabatan di kantor desa. Beliau juga merupakan bendahara untuk organisasi simpan pinjam desa. Hampir seluruh pelosok desa tahu, siapalah Pak Sahriya sebenarnya. Beliau bukan Saint Seiya.

IMG_5323

Setelah menyantap makan siang yang sangat mantap, buatan Ibu Lilis, istri Pak Sahriya, saya dan kelompok kecil saya yang bertugas untuk meneliti topik Kekerabatan, sepakat untuk berpencar mengamati keadaan sekitar rumah saat hujan mulai reda. Saya dan Gorija (panggilan imutnya Orieza) pergi ke daerah atas, Evita dan Beni pergi ke arah bawah. Kami berangkat pada pukul setengah empat.

IMG_5471

Pertama, saya dan Gorija pergi ke warung dekat rumah. Di sana, kami nyobain main lotere. Harusnya sih gak boleh judi, tapi kan ini biar ada bahan pembicaraan sama empunya toko. Loterenya ini cara mainnya cuma ngambil kertas yang ditempel di karton dupleks. Di karton dupleks ini juga sudah tertempel jenis-jenis hadiahnya, yang kebanyakan adalah rokok dengan berbagai merek. Kita menang lotere kalau kertas yang diambil itu bertuliskan nomer yang sama dengan nomer yang ditempel pada salah satu hadiah. Dengan seribu rupiah, dapet kesempatan empat kali. Seribuan pertama, terbuang percuma. Begitu juga dengan seribuan yang kedua. Kami sudahi saja main loterenya, jangan sampai semua harta Gorija ludes tak berguna.

IMG_5249

Lalu, kami melanjutkan perjalanan kami. Menurut kabar burung yang gak jelas dari mana dan burung jenis apa, katanya desa Padamaju punya danau di bagian utara desa. Saya dan Gorija dengan semangat menggebu-gebu menggeledah pelosok utara desa… yang dekat rumah. Namun, perjalanan kami tidak membuahkan hasil. Kami malah mengalami awkward moment dengan seorang nenek. Nenek ini bukanlah nenek yang mainstream seperti yang kami biasa lihat. Mulai dari cara berpakaian, nenek ini memilih memakai kaos singlet atau nama lainnya kaos kutang. Saya aja nggak berani pakai begituan, berenang di kolam renang umum aja pakai baju selam. Lalu, nenek ini sambil melakukan hal yang selama ini membuat saya setengah mati penasaran untuk mencobanya, tetapi tidak akan pernah saya coba, yaitu merokok. Kurang jeger apa coba nenek ini? Penampilan saya yang paling sangar itu pas saya masih SD. Ke mana-mana pakai dompet rantai yang disangkutkan ke rok. Padahal siapa juga yang mau ngerampok anak SD di tahun 2000an awal, paling isi dompetnya cuma 1000.

Kami hanya berbincang, lebih tepatnya basa-basi sebentar. Saya terlalu shock untuk mencerna keadaan.

Saya dan Gorija mulai putus asa. Kami putuskan untuk ke arah bawah, menemui Evita dan Beni. Di bawah sana, kami berempat bersua, melepas kangen. Gak deng, yakali.

Kami bertemu di sebuah pertigaan, dekat dengan rumah penyimpanan padi, yang biasa disebut “Goah” oleh penduduk sekitar. Di sana pula kami bertemu dengan empat anak laki-laki yang menggunakan baju yang seragam. Rupanya itu seragam buat TPA, buat les ngaji. Kebetulan, kami membutuhkan info tentang letak mesjid untuk observasi kami.

IMG_5533

Anak-anak ini membimbing kami menuju jalan yang benar. Jalan yang benar menuju masjid terbesar yang ada di sekitar sini. Mereka sebut mesjid ini sebagai mesjid agung. Begitu sampai, di sana ada ibu-ibu lagi pengajian. Namun, sepertinya konsentrasi mereka terpecah begitu melihat kedatangan kami padahal kami masih berdiri di pekarangan masjid, belum masuk ke dalam. Semua mata memandang ke arah kami. Kami pun membuka kacamata hitam kami dan menyebarkan senyuman ke seluruh penjuru. Boong deng. Kami langsung melipir secara perlahan.

Selanjutnya, kami bertanya tentang ada tidaknya danau pada para tour guide cilik ini. Mereka bilang ada. Begitu kami siap melangkah, ada salah satu dari mereka melanjutkan perkataannya, “kalau dari sini sekarang jam enam sore, paling nyampe sininya lagi jam delapan malam..” HEAAA STOP! INI HARUS DIHENTIKAN! Kami gak mau baru sampe desa terus udah dinyatakan jadi orang hilang. Yakali. Apalagi pas udah sampai danau, anak-anak yang nganter ini ternyata bukan anak-anak… HAAAA, SERAM NULISNYA AJA MERINDING!

Itulah highlight hari pertama. Sekarang masuk ke hari kedua.

Saya terbangun pada pukul setengah enam. Oh iya, saya tidur di lantai dua Pak Sahriya, sekamar sama Evita. Tidurnya pake sleeping bag. Yang lain ada juga yang tidur di kamar, tapi pake kasur. Sisanya berserakan di ruang tengah, meringkuk dalam sleeping bag.

Pagi itu disambut dengan hujan. Walau hujan, terlihat beberapa orang melakukan aktivitas di luar rumah, tapi jarang sih. Saya melihat ada seorang anak perempuan berjalan diantara pematang sawah hanya dengan menggunakan topi bundar sampi menyanyikan lagu “Topi Saya Bundar”. Bagian nyanyinya itu hanya fiksi semata, ya.

Saya isi pagi itu dengan menulis jurnal. Pada pukul setengah delapan, Evita menghampiri saya. Ia memamerkan ikat rambut barunya yang menggantikan ikat rambut miliknya yang sudah putus. Dia bilang, dia beli. Padahal ia merenggutnya dari anak ibu penjaga warung, lalu sang ibu penjaga itu dia beri uang. Waah, cara saya bercerita terlihat berlebihan ya, tapi mau gimana lagi dong? Saya berbicara fakta. Bahasa saya, bahasa kebenaran. #leluconOSKMtahunlalu

Sekitar pukul setengah sembilan, saya dan Gorija mulai berpergian, walaupun masih gerimis.

IMG_5305

To be continued, dulu ya. Ngos-ngosan nulisnya. Anda yang baca juga udah mulai capek bacanya, kan? Ngaku aja deh. Berdoa saja semoga ada part 2-nya. Harus bikin tugas presentasi KPIP juga nih, hafty haft.

Wassalam.