Jangan (Ragu) Ikut Campur Urusan Orang!

Begitu sedang ada kumpul keluarga atau reunian, saya biasanya jadi orang yang paling pendiam. Kenapa? Supaya gak ditanya-tanya. Bukannya apa-apa, tapi pertanyaannya itu kadang susah-susah, mengharuskan saya nerawang masa depan, kayak “Sekarang lagi sibuk apa? Rencananya nanti mau gimana?” Duh, saya kan ga mau mendahului takdir. Musyrik! Haha, lebay, ya. Gak deng, saya cuma gak mau dibebani ekspektasi orang aja sebenernya.

Berbekal keanehan saya itu, jadinya saya suka bingung untuk memulai pembicaraan dengan kenalan yang udah lama nggak ketemu. Karena saya ga suka ditanya, jadi saya gak berusaha nanya hal yang saya gak suka kalau saya yang ditanya, terutama tentang rencana. Padahal, kalau berpikiran baik, dengan membiarkan orang tahu rencana kita kan bisa aja muncul kesempatan-kesempatan ciamik—walau seringkali ujung dari obrolannya hanya basa-basi atau sekadar pamer gengsi. Eits, tajem banget, Dhil! Jangan gitu, ah. Eh iya, maaf-maaf…

Tapi, saya berniat memperbarui sikap saya dalam hal ini. Saya mau dan bersedia ikut campur masalah orang (dan sebaliknya)! Niat ini muncul di suatu sore, beberapa hari lalu, saat saya jalan kaki seorang diri menyusuri jalanan dari Setiabudi hingga Tubagus Ismail. Pemicunya berasal dari perbincangan dengan seorang kawan, via aplikasi messaging.

Oh iya, keluar topik sebentar, saya heran sih kenapa pemikiran mencerahkan dan motivasi itu sering datang saat saya jalan kaki, apalagi di tempat yang banyak pohonnya. Mungkin di saat itu saya merasa terhubung dengan semesta. Saya jadi dapat melihat peran diri sendiri sebagai bagian dari dunia yang sangat besar. Kalau cuma duduk di depan laptop, yang terpikir hanya, “apa hal selanjutnya dalam to-do list saya ya?” Heee, padahal saya tuh bikin to-do list aja jarang, jadi lebih seringnya diam dalam kebingungan hahaha, memalukan.

Oke, sip, kembali ke topik utama…

Kenapa harus ikut campur urusan orang?

Berdasarkan kontemplasi saya, ada dua alasan kenapa “ikut campur urusan orang” adalah hal yang penting untuk saya lakukan:

1. Kedamaian yang berkelanjutan

Saya sedang merasa sepi saat itu. Nya’ah belum buka lagi karena sedang direnovasi. Saya pun menghubungi seorang teman, bilang “bosaaaan!” Padahal kupunya kerjaan untuk diselesaikan. Tapi, mungkin karena tak ada teman duduk produktif bersama untuk memicu rasa persaingan, makanya bosan.

Dari obrolan saya dengan kawan saya itu, tiba-tiba bahasannya nyampe ke adab bertetangga berdasarkan Rasulullah SAW.

Kata “adab” yang saya bahas ini tuh pengertiannya adalah mengenai disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Jadi, dalam agama Islam, seorang manusia tuh dianjurkan untuk memiliki adab yang baik sebelum ia mempelajari ilmu. Karena, setinggi apapun ilmunya, kalau tidak memiliki adab yang baik, jadinya ia akan kesulitan dalam memilah ilmu—mana yang banyak manfaatnya dan mana yang sebenarnya lebih banyak membawa kerusakan daripada manfaatnya.

Dari adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW, saya membayangkan bagaimana dunia ini akan berjalan dengan baik jika manusia itu memperlakukan tetangganya seperti keluarganya sendiri. Eh, ini kita sepakati dulu ya pernyataan kalau seorang manusia: ga akan membiarkan anggota keluarganya kesulitan dan akan ikut berbahagia jika mereka mendapatkan pencapaian. Sebagai contohnya, di film First Man, pas Neil Armstrong baru pindah rumah, ada tetangganya yang ngasih kue gitu ke rumahnya sebagai ucapan selamat datang dan kenalan. Lalu, waktu ada kejadian buruk yang menimpa tetangganya ini (ga usah diceritain ya kejadian buruknya apa, ntar spoiler hehe), istrinya Neil Armstrong jadi salah satu orang yang langsung turun tangan membantu tetangganya itu. Indah sekali lah hubungan pertetanggaannya!

Nah, kalau adab bertetangga ini dilakukan oleh manusia di seluruh belahan dunia, harusnya ga ada orang yang kesusahan. Karena ga ada yang kesusahan, ga akan ada orang yang kepikiran buat bikin kejahatan! Mungkin. Bisa jadi.

Sedikit pengakuan, saya ngga dekat dengan tetangga saya. Nama satpam yang nongkrong di pos sebelah rumah saja pun saya tak tahu siapa namanya. Parah banget ya? Bahaya banget tuh. Kemungkinan terburuk yang dapat terjadi kalau kita nggak kenal tetangga kita sendiri adalah bisa aja kita gak ngeh kalau ada tetangga kita yang berkegiatan tak wajar…terus…ternyata dia teroris! Jeng jeng. Kamu pasti pernah nonton berita (kalau ga pernah, buruan tonton) yang meliput tentang respon orang yang gak tahu kenapa seorang tetangganya yang jadi bagian komplotan teroris, kan? Serem, kan?

Oke, sebelum kejauhan, yang mau saya tekankan adalah bagian tercapainya kedamaian dunia hanya karena sikap peduli dengan orang terdekat. Sikap peduli ini biasanya diawali dengan keingintahuan kita terhadap keseharian, bahkan tentang rencana masa depan, dari orang-orang terdekat (baik secara hati maupun lokasi) kita. Mulai dari mengenal lebih jauh, mulai dari tanya-tanya!

2. Bikin hidup punya makna

Sekarang, coba kita definisikan kegiatan “ikut campur urusan orang” dalam konteks ikut turun tangan membantu, gak cuma sekadar tanya kabar di sesekali waktu. Katanya, kegiatan “ikut campur” dengan konteks ini adalah hal yang sebenernya bikin hidup jadi bermakna.

Beneran! Kalau gak percaya sama saya yang pengalaman hidupnya belum seberapa, coba kamu baca deh buku-buku ini: Man’s Search for Meaning (Viktor Frankl), Give and Take (Adam Grant), Start with Why (Simon Sinek), When Breath Becomes Air (Paul Kalanithi), dan The Power of Meaning (Emily E. Smith). Mereka sepertinya lebih bisa kamu percayai daripada saya.

Ada salah satu fakta menarik dari buku The Power of Meaning. Di sana dijelaskan kalau masyarakat di negara maju itu, walau tingkat kebahagiaannya lebih tinggi, mereka merasa hidupnya gak sebermakna masyarakat yang hidup di negara berkembang, alias negara yang masih banyak permasalahannya. Kebahagiaan yang sumbernya dari hidup yang super mudah (ga ada kemacetan, tunjangan kesehatan terjamin, dll.) tuh ternyata gak tahan lama gitu. Walau sebuah keinginan atau kebutuhan pribadi seseorang itu udah dipenuhi, pasti masih ada aja kurangnya. Jadi, kebahagiaan dari pemenuhan hajat hidup diri sendiri tuh beda rasanya dengan kebahagiaan yang muncul dari hidup yang bermakna karena telah membantu orang.

Tak hanya itu, sebenernya, dengan membantu orang pun kita membantu diri sendiri loh. Tindakan sesimpel dengerin keluh kesahnya orang lain dan mencoba membantu orang itu dalam mengatur emosinya tuh membantu kita dalam mengatur emosi kita sendiri, mengurangi gejala depresi, dan akhirnya, meningkatkan kesejahteraan emosional kita.

Sekarang bayangkan, jika semua orang sibuk membantu semua orang, kamu mungkin tak perlu memikirkan hajat hidupmu sendiri karena sudah pasti ada orang-orang yang bahu-membahu mengurusi hidupmu! Muluk-muluknya sih gitu yaaa~ Eh tapi, janganlah kita membantu orang dengan pamrih, ya! Nanti sedih, nanti perih.

Kegiatan ikut campur yang naik kelas dari sekadar tanya-tanya menjadi bantu-bantu sebisanya itu rupanya besar dampaknya!

***

Nah, setelah mendapatkan kesadaran ini, saya berniat kalau saya tanya-tanya urusan orang tuh berarti saya memang ingin tahu karena ingin membantu, gak sekadar memecah kesunyian yang menyerbu. Setelah itu, bagian sulitnya, saya akan mencoba memberikan respon terbaik pada orang yang tanya-tanya tentang saya. Saya mencoba ga akan jawab sekenanya. Kalaupun pertanyaan itu saya rasa tidak pantas untuk ditanyakan, saya akan berikan orang itu senyuman dengan kadar yang pas. Kalau berlebihan, takutnya nanti jadi muncul perasaan! Hahaha~

Jadi, siap untuk ikut campur urusan orang (dan sebaliknya)? Saya sih, kayaknya, siap.


Dalam akhir postingan ini, saya mau berterima kasih pada teman saya yang tempo hari bersedia diajak ikut campur urusan saya siang-siang di jam kerja. Saya jadi dapat pencerahan dan mudah-mudahan ada gunanya bagi ke teman-teman sekalian yang membaca!


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *