Sama-Sama Pisang, Tapi Kok?

Pernah ngerasa nggak dapet perlakuan berbeda dari seseorang? Bukannya apa-apa, tapi ada temen kamu yang ngobrol sama orang yang tadi kamu ajak ngobrol dan topiknya sama dengan yang kamu bahas, tapi dia dapet respon lebih baik. Nahas!

Misalnya kamu habis ngobrol dosen deh, mau minta izin buat nggak masuk kelas karena ada urusan keluarga yaitu liburan ke puncak. Puncak Everest. Respon dosen itu ke kamu itu,

“liburan itu gak masuk hitungan buat izin, kecuali kamu habis liburan itu ketimbun salju dan masuk rumah sakit, baru itu bisa dipertimbangkan untuk izin.”

Nah, sedangkan respon dosen itu ke temen kamu malah,

“hati-hati di jalan ya, Nak, banyak berdoa dan saya juga turut mendoakan. Semoga kamu bisa mengibarkan bendera merah putih di sana bersama keluarga kamu. Oh iya, salam untuk papa dan mama kamu, ya.”

Oke, kamu bisa berpikir: dosen itu pilih kasih, temen kamu udah main belakang, semua orang di dunia ini menaruh sentimen sama orang-orang yang bernama depan seperti kamu, dosennya lagi PMS, emang dasarnya dosen itu kayak gitu (apa coba) dan lain-lain. Intinya, dunia ini tidak adil. Malah kamu mulai berpikir kalau dunia ini tidak lebih adil dari drama pembagian harta gono-gini di televisi.

Ya, ya, tetaplah berpikiran seperti itu. Tetaplah berharap agar suatu hari kamu dapat respon yang kamu mau.

Gini, saat ada dua salesman datang kepadamu dan menawarkan sebuah barang yang serupa dengan penawaran (diskon, bonus) lain yang sama, dari salesman yang mana yang akan kamu pilih? Jangan bilang dari salesman yang lebih ganteng, ya, bukan itu maksudnya, walaupun kadang-kadang iya sih, tapi bukan, jangan! Tentu kamu akan memilih untuk membeli pada salesman yang lebih dapat memenangkan hati kamu, kan? Ujung-ujungnya jadi, it’s not what you sell but how you sell it.

Nah itu, it’s not what you say, but how you say it.

Baiklah, daripada terus melihat masalah dari eksternal, mengapa tidak kita mulai dari sesuatu yang internal, dari diri kita sendiri. Percaya atau tidak, kamu bisa mengontrol reaksi yang diberikan orang lain sesuai yang kamu harapkan!

Sekarang saya mau cerita tentang apa yang telah saya pelajari selama ini, tentang bagaimana caranya bersosialisasi dan memenangkan hati orang yang saya hadapi. Kadang menang, kadang seri. Kalau misalnya kalah, saya pakai jalan terakhir, yaitu pundung. Ngambek. Hehe, nggak sih. Nggak salah lagi.

Silakan perhatikan bagan di atas. Itu bagan Emotional Intelligence. Ada banyak versinya sih, saya nggak tau ini versi yang gimana tapi yang ini pokoknya versi yang saya pelajari di mata kuliah People and Organizational Behavior. Percayalah, dengan memahami bagan ini, kamu akan tahu apa yang harus kamu miliki untuk menguasai diri sendiri, menguasai orang lain, dan menguasai dunia! Huahahahoi.

Ada empat kemampuan dasar dalam Emotional Intelligence, yaitu self awareness, self management, social awareness, dan relationship management. Empat kemampuan ini terbagi atas lingkupnya (personal, sosial). Bagian Awareness digunakan untuk mengukur seberapa baik kamu mengetahui dan merasakan emosimu/emosi orang lain. Bagian Management digunakan untuk mengukur seberapa baik kamu menggunakan awareness-mu untuk mengelola emosimu/emosi orang lain. Dari empat kemampuan dasar ini, sudah dikelompokkan sifat-sifat yang terkait dengan kemampuan tersebut. Gimana, kamu punya sifat-sifat apa saja yang paling menonjol?

Nah, dari empat kemampuan ini, jika ingin menguasai pikiran seseorang berarti kita tinggal harus menguasai relationship management dong? Yoi. Tetapi, before you can successfully manage relationships, you need to notice and manage the effect that people have on you and be aware of what they are feeling and what’s led to them feeling that way. Dengan kata lain, tidak semudah itu bung, kuasai dulu tuh tiga kemampuan lainnya! Widih, peer gak tuh. Intinya sih ya, kuasai dulu diri sendiri, baru deh pindah objek ke orang lain.

Bicara tentang kemampuan relationship management, saya punya satu rekomendasi buku yang membahas tentang beberapa sifat di kemampuan tersebut, terutama influence. Kalian harus baca How to Win Friends and Influence People-nya Dale Carnegie! Kalau mau liat inti-inti buku itu, bisa dilihat di sini.

Dalam buku itu dibahas banyak sekali cara untuk memenangkan hati orang lain. Mungkin bisa kamu coba untuk memenangkan hati pujaan hati.

Dari semua tips-tips yang ada, ada 3 yang paling saya suka.

1. Jangan mengkritik, mengutuk, atau mengeluh.

Dalam konteks ini, diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Begini, masing-masing orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Jangan tambah masalah orang lain dengan hal yang berbau negatif, kecuali jika itu memang dibutuhkan banget, kalau nggak dikasih tau bisa keseimbangan ekosistem bisa terganggu, misalnya. Apalagi melakukan tiga hal di atas kepada seseorang di muka umum dengan alasan yang tidak begitu kuat, dan sebenarnya masih bisa dibicarakan secara privat, dan sebenarnya lagi, ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah selain tiga itu tadi.

Saya sangat menghindari berbagi emosi negatif di sosial media. Bagi saya, berbagi kekesalan itu berarti membiarkan orang lain, dari yang kenal sampai orang yang tidak kita kenal, untuk menilai diri kita payah dalam menghadapi permasalahan.

Any fool can criticize, complain, and condemn—and most fools do. But it takes character and self-control to be understanding and forgiving.

– Dale Carnegie

Lebih baik simpan itu untuk diri sendiri, dan hanya bagikan kepada orang lain jika dia berteriak “jadikan aku tong sampahmu!” kepadamu.

Mari kita sebarkan pikiran-pikiran positif! Tegaskan hal-hal yang baik pada hal yang kamu bawa dan hal-hal baik yang ada pada diri orang lain.

2. Sentuh keinginan inti.

Di setiap kegiatan bersosialisasi pasti memiliki tujuan, tidak mungkin tidak.

“Eh ngobrol dong.”

“Ya, mau ngobrol apa nih? Apa apa?”

“Nggak ada apa-apa sih.” 

Di balik percakapan itu, nggak mungkin nggak ada apa-apa. Di balik percakapan itu, mungkin saja ada jiwa yang kesepian dan membutuhkan teman. Itu dia tujuannya, minta ditemenin, minta ditanyain.

Ketahui dengan siapa kita bicara. Ketahui apa yang dia inginkan, apa yang dia minati. Kemas tujuan percakapan kita dengan sudut pandang kebutuhan lawan bicara kita. Belum tahu apa yang siapa dia (sebenarnya) dan apa yang dia inginkan? Simak dia lebih lama, jadilah pendengar yang baik.

“Why talk about what we want? That is childish. Absurd. Of course, you are interested in what you want. You are eternally interested in it. But no one else is. The rest of us are just like you: we are interested in what we want.”

“The only way to influence people is to talk in terms of what the other person wants.”

“Talk to someone about themselves and they’ll listen for hours.”

– Dale Carnegie

3. Akui kesalahan dengan cepat dan bersungguh-sungguh.

Ini penting dan kamu tahu kenapa. Jangan tunggu sampai lebaran tahun depan.

***

Memenangkan hati orang lain ternyata tidak semudah memenangkan lomba lari keliling komplek TNI walaupun komplek TNI itu luas (ini apaan coba). Tapi lomba lari tuh capek sih, gak gampang buat menang juga. Kamu gak akan bisa menang lomba lari bukan karena kamu gak bakat lari atau gak punya stamina yang bagus, tapi karena kamu gak daftar lombanya. Ahahahaha. Kalau gak ketawa, jangan usahain buat ketawa, ya.

Oke, sebagai penutup, saya mau kasih kesimpulan. Dari semua yang saya pelajari tentang cara untuk memenangkan hati orang lain, kuncinya tuh ini (harusnya sih yang ini) be selfless.

“The world is full of people who are grabbing and self-seeking. So the rare individual who unselfishly tries to serve others has an enormous advantage.”

– Dale Carnegie

 P.S. harusnya habis baca ini, kalian gak bingung lagi kenapa judulnya kayak gitu. Yang jadi sorotannya bukan, “kenapa harus pisang”-nya, ya. Plis, ya.


Posted

in

by

Comments

One response to “Sama-Sama Pisang, Tapi Kok?”

  1. fadhlihsani Avatar
    fadhlihsani

    wah. awalnya tertarik dengan judul pisangnya. kemudian malah tertahan karena kualitas kontennya. terimakasih mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *